Tampilkan postingan dengan label dokter. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dokter. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 April 2013

Mencicipi Urine

Suatu pagi seorang Profesor Penyakit Dalam sedang visite dengan para dokter muda yang baru memulai pendidikan profesinya. Sebelum memulai visite pasien ia berkata, "ok, untuk menjadi dokter yg baik. Tidak hanya butuh otak yg pinter dan rajin yg ekstra, ada tiga sikap yang penting untuk dipegang teguh. Kita akan mempelajarinya hari ini. Kalian siap?"
"siap prof", jawab para dokter muda dengan antusias. Dan mereka pun segera memulai visite pagi.
"oke,sikap yg pertama adalah seorang Dokter harus memiliki rasa ingin tau yg tinggi. Kalian tau, di ruangan ini terdapat pasien diabetes melitus, atau dalam bahasa masyarakat sering disebut?" tanya si profesor.
"kencing manis,prof."jawab para dokter muda.
"bagus. Tapi apakah kalian memiliki pernah penasaran kenapa dinamakan kencing manis?"
Para dokter muda terdiam.
"oke,tidak ada yang menjawab? ingat pesan saya tadi. Pikiran seorang dokter harus selalu penuh dengan ingin tau. Rasa ingin tau akan mengantarkan kalian pada pengetahuan dan keterampilan yg baru.tanpa rasa ingin tau,kalian takkan pernah maju. Mengerti?"
Para dokter muda tertunduk malu.
"sekarang pelajaran kedua. Dokter tidak boleh jijik. Mengerti?"
Para dokter muda mengangguk setuju.
"oke, saya memiliki sampel urine dari pasien diabetes. Sebagai dokter tentu kita harus memiliki sifat penuh rasa ingin tahu dan tidak mudah jijik. Apakah kalian tidak ingin tau kenapa di masyarakat penyakit diabetes melitus disebut kencing manis? Apakah urine pasien benar benar terasa manis?"
Sang profesor lalu mencelupkan ujung jarinya pada sampel urine tersebut kemudian menjilatnya.
"kalian tak pernah tau jika tak pernah mencobanya."
Semua dokter muda bergidik, menahan jijik pada tindakan si profesor.
"ingat dua pelajaran awal, selalu ingin tau dan tidak boleh jijik. sekarang lakukan yang telah saya lakukan tadi."
Semua dokter muda mendadak pucat, terbayang jijiknya harus menjilat urine pasien. Mereka pun makin terkejut saat sang profesor menyodorkan sampel urine. Wajahnya serius. Satu persatu mereka mencelupkan jari mereka di sampel urine kemudian menjilatnya. Rasa jijik tersirat di wajah mereka.
Setelah semua selesai. Sang profesor berkata, "saya akan sampaikan pelajaran ketiga. Ini yg tak kalah penting. Dokter harus mengamati semua hal dgn teliti."
Sang Profesor lalu tersenyum.
"kalian tau? Kalian semua tidak teliti. Saya harap kalian semua mengambil pelajaran hari ini."
Para dokter muda terlihat kebingungan.
"sadarkah kalian yang saya lakukan tadi? Yang saya lakukan adalah mencelupkan jari tengah ke urine dan kemudian menjilat jari telunjuk."

Selasa, 19 Februari 2013

Maaf,( Bukan ) karena miskin Anda ditolak.

Sebelumnya saya sampaikan duka yang mendalam atas meninggalnya dik Dera. Masalah yankes ini memang seksi sekali. sangat menarik perhatian masyarakat dan rawan ditunggangi.
tapi izinkan sy menyampaikan kesimpulan saya setelah mencermati
masalah ini. sy rasa dari awal sudah ada kesalah pahaman (kalau gak mau dibilang ada yg mempolitisir dan memblowup masalah ini tanpa fakta yg benar), sesungguhnya yg
terjadi bukanlah penolakan terhadap pasien. melainkan memang
pada saat itu tidak tersedia fasilitas pelayanan yg memadai untuk yang bersangkutan.
Untuk dketahui bahwa kondisi pasien
saat itu sangat buruk. Dari yg saya ketahui, berat lahir pasien
sangat kurang. hanya 1000 gram dibanding rata rata berat bayi
yg sehat yg 3000gram,belum lagi fakta bhwa tyt si bayi memiliki
kelainan di saluran pernafasannya. dari sisi medik istilahnya
harapannya buruk lah,alias prognosis malam.
nah pasien dgn keadaan seburuk itu tidak bisa dirawat disembarang tempat, apalagi cuma dirawat dipojokan IGD seperti komentar salah seorang pejabat yg keliatan bgt g nguasain detail masalah. Bayi dlm kondisi berat seperti dik Dera harus di rawat di NICU alias ICU untk bayi baru lahir.
nah permasalahannya disini, tidak semua rumkit punya fasilitas NICU. kalo pun ada biasanya angka permintaan nya
tinggi. sampe antri bahkan.
Di NICU pasien akan mendapatkan pelayanan yg intensif dr tenaga
kesehatan yg telah dilatih khusus dan dlengkapi oleh alat bantuan hidup canggih
yg dpakai satu pasien satu alat. nah ini yg sangat terbatas! kalo
gak ada lagi tempat di NICU yg tersedia, otomatis pasien baru
gak bisa masuk. karena melepaskan alat bantuan hidup pada
pasien yg lagi menggunakannya untuk memindahkan pada pasien
baru sama dengan membunuh pasien tersebut.
buat informasi rekan rekan,sejak ada jaminan kesehatan dan yg
tbaru ini KJS, angka jumlah pasien dismua level pelayanan
kesehatan mulai dr puskesmas sampai rs rujukan semua
meningkat tajam.
ambil contoh rsud tarakan, yg konon sampai mengalami
peningkatan jumlah pasien sampai 500%. yg horor adalah fakta
bahwa tidak ada peningkatan jumlah staf, alat, fasilitas, apalagi
kesejahteraan.
bygkn aja, beban kerja jauh bertambah dengan kesiapan sarana yankes yg relatif
tetap sama. apakah ini efek dr politik pencitraan tanpa
pertimbangan efek jangka panjang, silakan tiap kita menyimpulkan.
yg pasti kasus ini hanya satu masalah, dari segunung masalah
yg akan datang bila akarnya tidak dselesaikan.
peningkatan jumlah pasien yg harus dlayani seharusny juga
dsertai dgn peningkatan sarana, prasarana, dan tentu saja
jumlah staf yg akan melayaninya. jika tidak,maka pasti akan ada
lg rakyat yg 'ditolak' karena tidak ada fasilitas yg bs melayani.
Kalau pejabat mw populer gampang dan cepat! kampanye berobat gratis, muncul di media, rapat ama dewan, trus tanda tangan deh. yg susah dan rumit itu menjalankannya yang sulit dan butuh waktu, mulai dari mengubah mindset masyarakat, menyiapkan sarana prasarana, dan staf yankesnya, sampe menyiapkan dana membayar tagihannya.
ah daripada sibuk mengumbar janji pengobatan gratis,mending pemerintah menggencarkan upaya promosi kesehatan. lebih murah, lebih mudah.
Mewujudkan masyarakat yg sehat itu lebih baik dari pada sekedar memfasilitasi orang sakit. betul gak?

Selasa, 05 Februari 2013

Tulisan Dokter

Ada yang bilang tulisan dokter itu gak bagus, ada juga yang bilang tulisan dokter itu sulit dibaca. Beberapa bahkan lebih terang terangan menyebut tulisan dokter itu jelek hehehe. Yang menyedihkannya ada juga beberapa orang yang menyebut tulisan siapapun yang jelek, dengan : seperti tulisan dokter. oaaalaaaaah....
Harud diakui memang beberapa sejawat dokter memang memiliki tulisan yang agak sulit dibaca (bahkan oleh sesama dokter sekalipun hehehe). tapi sungguh bertentangan dengan mitos yang ada di masyarakat, para dokter tidak pernah belajar membuat tulisannya menjadi jelek. tidak ada satu jam pun kuliah ataupun latihan untuk belajar membuat tulisan jadi jelek.
Banyak juga kok dokter yang memiliki tulisan bagus dan mudah dibaca. pengamatan membuktikan biasanya makin senior dokternya makin sulit dibaca tulisannya. tapi tak melulu, pada beberapa kasus ditemukan juga dokter senior yang tulisannya bagus sementara banyak juga dokter junior yang tulisannya parah.
Beneran deh, tak ada niat dokter untuk membuat tulisannya menjadi jelek dan sulit dibaca. makanya salah besar kalau ada yang mengisukan dokter membuat jelek tulisannya agar resep obat yang ditulisnya tidak bisa sembarangan dibaca orang lain dan ditebus di sembarang tempat.
lalu mengapa tulisan dokter susah dibaca? bukan juga kami karena kami begitu menyukai EKG (rekaman listrik jantung yang berbentuk garis yang naik turun) apalagi karena kami bolos di pelajaran menulis halus waktu sekolah dasar dulu.
Lalu mengapa? saya coba ambil beberapa sampel, beberapa teman dokter yang tulisannya bagus ternyata dari sejak sekolah dulu memang tulisannya sudah rapi. sementara yang tulisannya gawat juga ternyata memang sudah begitu dari sananya.
pada berapa kasus juga diketahui beberapa teman yang tulisannya semakin jelek sejak jadi dokter.dan ini bukan satu dua orang,melainkan cukup banyak.saya ambil contoh diri saya sendiri. saya bukan orang dengan tulisan bagus, tapi paling tidak saya bisa membuat tulisan bisa terbaca. sebagian besar tulisan tangan saya pun bisa terbaca dengan baik,apalagi karena sy cenderung untuk menggunakan huruf pisah ketimbang menulis dengan huruf sambung.
Masalah akan muncul bila saya harus menulis dalam jumlah banyak. apalagi yg harus ditulis boleh dibilang itu itu saja dan sudah ada pola tertentunya harus menulis apa. pada kondisi itu biasanya tulisan saya akan makin lama makinjelek.
kondisi seperti ini tidak hanya dialami oleh saya seorang. melainkan juga beberapa sejawat yg lain. makin banyak yg harus ditulis,makin lama pula menulis maka makin jelek pula tulisannya. apakah ada unsur 'kelelahan' disini? walloalam. Berhubungan dengan hal ini, dokter itu pekerjan yg mengharuskan kita banyak menulis. wajar aja kalo ujungnya akan berakhir dengan tulisan yg jelek.hehe
Tulisan jelek bukan tanpa bahaya, kalau sulit dibaca bisa menyebabkan apoteker salah membaca. akan lebih gawat bila si apoteker memutuskan menyimpulkan sendiri tanpa mengkonfirmasi dokter yang bersangkutan. bisa terjadi kesalahan pemberian obat yg tentu saja bisa membahayakan pasien.
Kalo diamati, sebenarnya tulisan dokter yg jelek sekalipun bisa terbaca. asalkan kita memahami polanya. pola ini ada karna sebenarnya yang dituliskan dokter itu itu saja. asal bisa mengarahkan kemana kira kira arahnya, tulisan dokter bisa kita baca. ah mungkin bukan persis terbaca, lebih tepatnya tertebak. ahaha