Sebelumnya saya sampaikan duka yang mendalam atas meninggalnya dik Dera. Masalah yankes ini memang seksi sekali. sangat menarik perhatian masyarakat dan rawan ditunggangi.
tapi izinkan sy menyampaikan kesimpulan saya setelah mencermati
masalah ini. sy rasa dari awal sudah ada kesalah pahaman (kalau gak mau dibilang ada yg mempolitisir dan memblowup masalah ini tanpa fakta yg benar), sesungguhnya yg
terjadi bukanlah penolakan terhadap pasien. melainkan memang
pada saat itu tidak tersedia fasilitas pelayanan yg memadai untuk yang bersangkutan.
Untuk dketahui bahwa kondisi pasien
saat itu sangat buruk. Dari yg saya ketahui, berat lahir pasien
sangat kurang. hanya 1000 gram dibanding rata rata berat bayi
yg sehat yg 3000gram,belum lagi fakta bhwa tyt si bayi memiliki
kelainan di saluran pernafasannya. dari sisi medik istilahnya
harapannya buruk lah,alias prognosis malam.
nah pasien dgn keadaan seburuk itu tidak bisa dirawat disembarang tempat, apalagi cuma dirawat dipojokan IGD seperti komentar salah seorang pejabat yg keliatan bgt g nguasain detail masalah. Bayi dlm kondisi berat seperti dik Dera harus di rawat di NICU alias ICU untk bayi baru lahir.
nah permasalahannya disini, tidak semua rumkit punya fasilitas NICU. kalo pun ada biasanya angka permintaan nya
tinggi. sampe antri bahkan.
Di NICU pasien akan mendapatkan pelayanan yg intensif dr tenaga
kesehatan yg telah dilatih khusus dan dlengkapi oleh alat bantuan hidup canggih
yg dpakai satu pasien satu alat. nah ini yg sangat terbatas! kalo
gak ada lagi tempat di NICU yg tersedia, otomatis pasien baru
gak bisa masuk. karena melepaskan alat bantuan hidup pada
pasien yg lagi menggunakannya untuk memindahkan pada pasien
baru sama dengan membunuh pasien tersebut.
buat informasi rekan rekan,sejak ada jaminan kesehatan dan yg
tbaru ini KJS, angka jumlah pasien dismua level pelayanan
kesehatan mulai dr puskesmas sampai rs rujukan semua
meningkat tajam.
ambil contoh rsud tarakan, yg konon sampai mengalami
peningkatan jumlah pasien sampai 500%. yg horor adalah fakta
bahwa tidak ada peningkatan jumlah staf, alat, fasilitas, apalagi
kesejahteraan.
bygkn aja, beban kerja jauh bertambah dengan kesiapan sarana yankes yg relatif
tetap sama. apakah ini efek dr politik pencitraan tanpa
pertimbangan efek jangka panjang, silakan tiap kita menyimpulkan.
yg pasti kasus ini hanya satu masalah, dari segunung masalah
yg akan datang bila akarnya tidak dselesaikan.
peningkatan jumlah pasien yg harus dlayani seharusny juga
dsertai dgn peningkatan sarana, prasarana, dan tentu saja
jumlah staf yg akan melayaninya. jika tidak,maka pasti akan ada
lg rakyat yg 'ditolak' karena tidak ada fasilitas yg bs melayani.
Kalau pejabat mw populer gampang dan cepat! kampanye berobat gratis, muncul di media, rapat ama dewan, trus tanda tangan deh. yg susah dan rumit itu menjalankannya yang sulit dan butuh waktu, mulai dari mengubah mindset masyarakat, menyiapkan sarana prasarana, dan staf yankesnya, sampe menyiapkan dana membayar tagihannya.
ah daripada sibuk mengumbar janji pengobatan gratis,mending pemerintah menggencarkan upaya promosi kesehatan. lebih murah, lebih mudah.
Mewujudkan masyarakat yg sehat itu lebih baik dari pada sekedar memfasilitasi orang sakit. betul gak?
Selasa, 19 Februari 2013
Maaf,( Bukan ) karena miskin Anda ditolak.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar