Saya sangat sepakat dengan Pak Tifatul Sembiring, bahwa saat ini rakyat Indonesia yg terkenal santun mulai kehilangan kesantunannya. sudah jadi lumrah jika orang orang sibuk saling menyindir,bahkan yg lebih parah saling menghina di ruang publik. Sungguh tak ada lagi rasa sungkan atau pun takut merendahkan kehormatan orang lain di depan umum.
hal ini patut disayangkan,padahal budaya kita punya begitu banyak instrumen untuk menyalurkan ekspresi namun tetap menjaga kesopanan. salah satunya dengan pantun. begitu kata Pak Tif dalam salah satu kesempatan.
pantun adalah bahasa tinggi, dialah seni untuk berekspresi namun tetap dalam cakupan norma. Tidak perlu mengumbar kata kata kasar dalam pantun untuk mengenai sasaran, tetapi jelas bahwa pantun punya cara tersendiri untuk menggapai targetnya. Tidak hanya untuk menyindir pantun ibarat makanan yg cocok disantap siapa saja, dan dlm situasi bgaimana saja. Pantun bisa menjadi pembuka,penutup, bahkan penyampaian maksud dengan cara yang menarik namun tak kehilangan esensi.
Pantun adalah seni. bagaimana mengemas maksud dlm bahasa yg santun dan berkonteks tinggi. ia juga sebuah teka teki. butuh kejelian dalam mbuat pantun yg baik dan enak didengar. pantun yg baik akan membuat tiap pendengarnya excited menunggu isinya dan tersenyum senyum sesudah mendengar isinya.
Makanya saya tak segan menyebut Pak Tif sebagai bapak pantun modern. tak ada yg bisa menyangkal terobosannya membangkitkan kembali budaya pantun di ruang ruang publik. Ah,jika pejabat saja semangat 'memantunkan' kembali negeri ini,kenapa sy malah enggan?
sebagai penghargaan kepada beliau, saya coba buatkan pantun...
Sungguh lebat mangga pak raden
Jangan dicuri nanti dipukul
Sudah banyak calon presiden
Saya tertarik dukung Tifatul
Bukan empat mata acaranya Tukul
Orangnya lucu pandai berpantun
Bukan karna dibayar saya dukung Tifatul
karna dia cerdas sikapnya pun santun
Sesudah adzan doa pun makbul
Sambil bergegas ke masjid raya
Orang boleh mengejek pak tifatul
Kalo ada yg lebih baik kasi tau saya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar