Rabu, 02 Mei 2012

Selamat Jalan Duhai Wanita Kuat yang Murah Senyum.......

Assalaamualaykum Ibu

Inilah surat yang terlambat ku tulis dan kusampaikan.
Maka biarlah Alloh saja yang akan menyampaikannya kepadamu, wahai engkau yang selalu murah senyum

Ibu, maafkan semua prasangka burukku padamu.

Sebelum penunjukanmu sebagai mentri aku tak pernah mengenalmu. Penunjukanmu sebagai mentri lah yang akhirnya membuatku mengenal namamu. Jujur, situasi dan kondisi kala itu sedikit banyak menimbulkan kesan yang tak baik tentangmu. apalagi ada rasa kagum pada pendahulumu, Ibu Siti Fadilah. Belum lagi cerita-cerita miring tentang ketidakcocokan mu dengan Ibu Siti Fadilah, juga latar belakangmu yang pernah menjadi pimpinan NAMRU, sebuah lembaga penelitian kesehatan Amerika yang sangat kontroversial. Ibu, maafkan aku yang tak mau untuk berusaha lebih mengenalmu.

Ibu, aku terkejut saat mendengar cerita sakitmu. Jadi bertanya-tanya, bagaimana mungkin penyakit Kanker Paru mengenaimu? Janggal rasanya. Bukankah engkau bukan perokok? Apakah penyakit ganas itu tidak terdeteksi ketika Ibu melakukan pemeriksaan kesehatan sebagai calon mentri? Sungguh membingungkan Bu.

Tapi tahukah Bu, ada rasa kagum padamu. Mendengar santainya engkau menanggapi diagnosa yang rasanya tiap dokter tau, kalau penyakit mu itu semacam vonis mati. Sangat menarik melihat tanggapanmu ketika ditanya mengenai penyakitmu. engkau mengembalikan semua kepada Alloh dan berusaha terus berprasangka baik padaNya, kan? Sungguh engkau benar Ibu, bukankah DIA yang memberikan segalanya? maka tak ada tempat pengembalian terbaik, kecuali padaNya. Ah, baru ku tahu saat itu, betapa besar jiwamu.

Ibu, aku masih ingat, saat aku melihatmu hampir setahun lalu. di Bukittinggi Ibu, di Acara Konas PDPI. Aku semakin merasa kagum padamu saat bertemu. Ibu terlihat Flamboyan namun tetap humble, sangat cerdas, hangat dan murah senyum. Luar biasa Bu, sama sekali tak terlihat bahwa Ibu sedang sakit, bahwa Ibu sedang dalam pengobatan, bahwa Ibu sedang berjuang. Allohu Akbar!! sungguh, jika bukan datang dari Alloh, tak tahu dari mana kekuatan untuk menopang beban seberat itu, Ibu.

Aku sendiri nyaris lupa dengan penyakitmu, sampai engkau sendiri yang ceritakan di sela-sela Keynote speechmu. Engkau sendiri yang menceritakan perjalananmu ke negeri nun jauh disana dalam rangka berobat, sadar kah engkau Ibu? engkau sontak mengingatkan kami semua yang hadir disana saat itu, bahwa sosok ceria, ramah, dan terlihat sehat di depan kami itu, sedang sakit berat. Tapi sungguh, tak selintas pun ada kesan engkau minta dikasihani. sama sekali tidak Ibu. Malah engkau ceritakan itu semata-mata ingin memberi masukan pada pelayanan kesehatan di negeri ini, agar lebih baik lagi.

Ibu, Aku selalu ingat dengan prognosis buruk penyakitmu yang ku tahu sejak kuliah dulu. 5 years survival ratenya sangat rendah kan Ibu? aku yakin kau pun tau. Tapi maaf Ibu, aku sering lupa jika Ibu menderita penyakit ganas itu. Tahukah kenapa Bu? karena tiap ku lihat Ibu, tak sekalipun Ibu terlihat sakit. Ibu selalu terlihat sehat, cerdas, dan selalu murah senyum. Luar biasa. Allohu Akbar.

Sampai seminggu lalu, ku dengar kabar penyakitmu yang semakin memburuk Ibu, hingga kau tinggalkan amanah menjadi mentri kesehatan yang selama ini kau pikul. Luarbiasa berat bebanmu Ibu, engkau harus memikirkan kesehatan seluruh negeri sementara Alloh juga mengamanahkan dirimu penyakit seberat itu. Sungguh Ibu, engkau salah seorang perempuan terkuat yang pernah ku tahu.

Ibu, beberapa hari ini kupantau terus perkembanganmu. Dan Masya Alloh, setiap hari di berita yang ku dengar kondisimu semakin memburuk Ibu. Sempat ku dengar engkau telah memasuki stadium IV, penyakitmu telah bermetastase, akhirnya kesadaranmu menurun, tak lama dirimu kritis, pindah ke ICU, dan akhirnya di sela-sela pekerjaanku, kudengar kabar itu. Engkau telah mendahului kami Ibu. Maka, ku ucapkan : Selamat jalan Ibu.

Ibu, disurat yang terlambat di tulis dan disampaikan ini. Ku sampaikan bela sungkawaku. Semoga Alloh mengampunimu, menerima semua amal baikmu, dan menyabarkan keluargamu. Inilah akhir dari perjuanganmu, perjuangan memanggul amanah dan perjuangan untuk melawan penyakitmu. tapi inilah juga awal dari 'panen' mu, tempat mu menuai semua amal ibadah yang telah engkau lakukan. Semoga Alloh membalas kesabaranmu di dunia dengan kebaikan di akhirat kelak.

Ibu, disurat yang kutitipkan pada Alloh ini. Aku juga berdoa agar semua cita-cita baikmu akan dunia kesehatan negeri ini dapat tercapai sesegera mungkin. Semoga ini bisa jadi momentum untuk perbaikan dunia kesehatan di Indonesia. Masih banyak PR, tugas, amanah yang harus dilanjutkan, masih segunung harapan masyarakat dan masih terlalu banyak kekurangan yang harus segera diperbaiki.

Sekali lagi Ibu, selamat jalan dariku... terimakasih untuk semua yang telah engkau perjuangkan selama hidupmu. Kami takkan pernah lupa ketegaranmu, kami tak pernah lupa kekuatanmu, kami takkan pernah lupa senyummu, Dokter Endang Rahayu Sedyaningsih....

"Allahhummaghfir laha warhamha wa'aafiha wa'fu anha, Allahumma laa tahrimnaa ajraha walaa taftinna ba'daha waghfirlanaa walaha. aamiin.....



Lampiran.

Salah satu petikan pidato Almarhumah Dokter Endang :


"Saya sendiri belum bisa disebut sebagai survivor kanker. Diagnose kanker paru stadium 4 baru ditegakkan 5 bulan yang lalu. Dan sampai kata sambutan ini saya tulis, saya masih berjuang untuk mengatasinya. Tetapi saya tidak bertanya "Why me ??".
...
Saya menganggap ini adalah salah satu anugerah dari Allah SWT. Sudah begitu banyak
anugerah yang saya terima dalam hidup ini: hidup di negara yang indah, tidak dalam
peperangan, diberi keluarga besar yang pandai-pandai, dengan sosial ekonomi lumayan, dianugerahi suami yang sangat sabar dan baik hati, dengan 2 putera dan 1 puteri yang alhamdulillah sehat, cerdas dan berbakti kepada orang tua. Hidup saya penuh dengan kebahagiaan

"So .... Why not?" Mengapa tidak, Tuhan menganugerahi saya kanker paru? Tuhan pasti mempunyai rencanaNya, yang belum saya ketahui, tetapi saya merasa SIAP untuk menjalankannya. Insya Allah. Setidaknya saya menjalani sendiri penderitaan yang dialami pasien kanker, sehingga bisa memperjuangkan program pengendalian kanker dengan lebih baik.

Bagi rekan-rekanku sesama penderita kanker dan para survivor, mari kita berbaik
sangka kepada Allah. Kita terima semua anugerahNya dengan bersyukur. Sungguh,
lamanya hidup tidaklah sepenting kualitas hidup itu sendiri. Mari lakukan
sebaik-baiknya apa yang bisa kita lakukan hari ini. Kita lakukan dengan sepenuh
hati. Dan .... jangan lupa, nyatakan perasaan kita kepada orang-orang yang kita
sayangi. Bersyukurlah, kita masih diberi kesempatan untuk itu. "

Tidak ada komentar:

Posting Komentar